Jawa Barat

Psikolog Soroti Dugaan Pembakaran Rumah Orang Tua di Bandung, Ledakan Emosi Diduga Jadi Pemicu

20
×

Psikolog Soroti Dugaan Pembakaran Rumah Orang Tua di Bandung, Ledakan Emosi Diduga Jadi Pemicu

Share this article

Jabarplus.id, Bandung – Kasus dugaan pembakaran rumah yang dilakukan seorang pria berinisial AR (22) terhadap rumah milik orang tuanya di Jalan Cirangrang, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, menjadi perhatian dari sisi psikologi.

Berdasarkan informasi kepolisian, aksi tersebut diduga dipicu rasa sakit hati setelah pelaku kerap mendapat teguran dari ibunya.

 

Akibat peristiwa tersebut, tiga bangunan hangus terbakar. Ayah pelaku juga mengalami luka bakar pada bagian tangan saat kebakaran terjadi.

 

Kapolsek Babakan Ciparay Kompol Kurniawan mengatakan, hasil penyelidikan sementara mengarah pada persoalan keluarga sebagai pemicu dugaan pembakaran.

Sebelum kejadian, pelaku diketahui sempat mendapat teguran dari ibunya.

 

Polisi menduga pelaku sengaja membakar sepeda motor yang terparkir di dalam rumah hingga api membesar dan merembet ke bangunan di sekitarnya. Saat ini, kepolisian masih mendalami motif serta kronologi lengkap kejadian.

 

Menanggapi peristiwa tersebut, Psikolog PT Martasand Psychology Indonesia, Vionabilla Azalea Callysta Sasha Syadina, S.Psi, menjelaskan bahwa ledakan emosi yang berujung pada tindakan agresif umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh akumulasi tekanan emosional yang berlangsung dalam waktu tertentu.

BACA JUGA  Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sastra Winara Siap Kolaborasi dengan Siapapun Bupati 2024-2029 Nanti

 

“Kasus seperti ini menjadi pengingat bahwa emosi yang terus dipendam tanpa dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi perilaku yang sangat merugikan. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tentu pernah merasakan marah, kecewa, atau frustrasi, termasuk ketika menghadapi konflik dengan keluarga. Namun, emosi tersebut seharusnya tidak dilampiaskan melalui tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Tindakan seperti membakar rumah hingga menyebabkan orang lain terluka menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan emosi dan menyelesaikan konflik secara sehat sangatlah penting,” ujar Vionabilla.

 

Menurutnya, dari perspektif psikologi, seseorang yang mengalami konflik berkepanjangan dapat mengalami kesulitan dalam mengelola emosi apabila tidak memiliki mekanisme koping yang adaptif.

Perasaan marah, kecewa, atau merasa tidak dipahami dapat terus terakumulasi hingga meningkatkan risiko munculnya perilaku impulsif ketika individu menghadapi situasi yang dianggap sebagai pemicu.

BACA JUGA  Lapas Banjar Periksa Ponsel Petugas untuk Cegah Judi Online

 

Meski demikian, Vionabilla menegaskan bahwa faktor psikologis tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan kekerasan.

 

“Dari sudut pandang psikologi, ledakan emosi biasanya tidak muncul begitu saja, melainkan bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti konflik yang berlangsung lama, kesulitan mengungkapkan perasaan, atau cara menghadapi tekanan yang kurang adaptif. Meski demikian, hal tersebut bukan berarti menjadi pembenaran atas tindakan kekerasan. Tanggung jawab terhadap perbuatan tetap melekat pada individu,” jelasnya.

 

Sementara itu, Direktur PT Martasand Psychology Indonesia, Billy Martasandy, mengatakan bahwa masyarakat perlu memahami pentingnya regulasi emosi sebagai salah satu kemampuan dasar dalam menjaga kesehatan mental dan mencegah terjadinya perilaku agresif.

 

“Peristiwa ini menunjukkan bahwa konflik yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi masalah yang jauh lebih besar apabila seseorang tidak memiliki kemampuan mengendalikan emosi dan menyelesaikan konflik secara sehat. Namun perlu dipahami, tidak semua individu yang mengalami konflik keluarga akan melakukan tindakan kekerasan. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berinteraksi, sehingga setiap kasus harus dilihat secara utuh dan tidak disederhanakan hanya pada satu penyebab,” ujar Billy.

BACA JUGA  Pemkab Bogor Siapkan 13 Ambulans dan Tim Medis untuk Pilkada 2024

 

Billy menambahkan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membangun komunikasi yang sehat sehingga setiap anggota keluarga memiliki ruang untuk menyampaikan perasaan, keluhan, maupun tekanan yang dialami tanpa harus berujung pada perilaku destruktif.

 

“Apabila seseorang mulai menunjukkan kesulitan mengendalikan amarah, sering bereaksi secara impulsif, atau menyimpan tekanan emosional dalam waktu lama, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan. Pendampingan psikologis dapat membantu individu mengenali emosinya, meningkatkan kemampuan mengelola stres, serta membangun cara penyelesaian masalah yang lebih sehat sehingga risiko munculnya tindakan agresif dapat diminimalkan,” tutup Billy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *